Minggu, 28 Oktober 2012

pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa Kelas V MI DDI Masamba


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Seiring dengan berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maka guru di tuntut kreatif dalam merancang program pembelajaran. Hal ini di maksudkan agar guru mampu meningkatkan strategi pembelajaran supaya peserta didik mencapai hasil belajar sebagai mana yang di harapkan. Namun berdasarkan fakta yang terjadi saat ini adalah hasil belajar siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba pada mata pelajaran IPA masih rendah. Hal ini di karenakan guru lebih memilih mengajar dengan cara yang dianggap mudah yaitu menggunakan metode ceramah. Metode ceramah hanya membuat siswa menjadi bosan, tidak kreatif, dan hanya bercerita dengan teman saat proses belajar mengajar berlangsung karena pembelajaran hanya berpusat pada guru dan guru yang bertindak aktif sementara siswa hanya duduk diam sebagai pendengar.
Rata-rata hasil belajar siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba pada mata pelajaran IPA dapat di lihat seperti pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1. Rata – rata hasil belajar  siswa pada mata pelajaran IPA
Tahun pelajaran
Semester
Nilai Rata – rata
2010 / 2011
Ganjil
Genap
60
62
2011 / 2012
Ganjil
Genap
63


Dengan demikian menunjukan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V di Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba masih sangat rendah dengan nilai rata – rata pada semester ganjil tahun ajaran 2011 / 2012 yaitu 63. Nilai tersebut masih jauh dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan di sekolah tersebut yaitu 65. Hal ini terjadi karena metode pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan belum dapat diterapkan secara maksimal. Guru telah mengupayakan perbaikan dalam proses pembelajaran diantaranya menggunakan pembelajaran tanya jawab namun belum mencapai hasil yang diharapkan.
Pada penerapan pendekatan keterampilan proses, keaktifan siswa diutamakan, dalam hal aktif bergerak dalam berbuat, serta mengapreasikan segala keingintahuan siswa yang dilakukan dalam suatu penemuan, berbicara dan mendengarkan. Pendekatan ini dirancang untuk membantu siswa memperbaiki kemampuan berpikirnya.
Tujuan pengajaran sebagai proses adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga siswa bukan hanya mampu dan terampil dalam bidang psikomotorik, melainkan juga bukan sekedar ahli menghafal. Pada keterampilan proses, guru tidak mengharapkan setiap siswa akan menjadi ilmuwan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa memahami sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-cara seperti yang diperbuat oleh ilmuwan. Selain itu, melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan. Dan alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan ke jalur profesi apapun yang diminatinya.
Oleh karena itu, peneliti termotivasi untuk mengadakan penelitian yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada materi pelajaran IPA di kelas V Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba dengan penerapan pendekatan ketrampilan proses.
1.2        Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Apakah dengan penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajara IPA di kelas V Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba ?.”
1.3        Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA melalui penerapan pendekatan keterampilan proses di kelas V Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba.
1.4        Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
1.      Bagi siswa
Dapat memacu semangat belajar siswa, mengemukakan ide atau gagasan, serta meningkatkan kreativitas dalam melakukan suatu pengamatan.
2.      Bagi guru
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih pendekatan pembelajaran yang efektif digunakan dalam proses pembelajaran, khususya untuk mata pelajaran IPA.
3.      Bagi sekolah
Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah dan perlunya penggunaan penerapan pendekatan keterampilan proses sebagai pendekatan alternatif mata pelajaran IPA.


4.      Peneliti
Diharapkan peneliti dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan acuan dalam bidang pendidikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
5.      Dinas dan instansi terkait
Agar dinas dan instansi terkait dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran proses
6.      Program pendidikan S1 guru dalam jabatan
Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.
7.      Almamater
Untuk memperkenalkan dan mengangkat nama baik almamater Universitas Tadulako pada masyarakat khususnya pada dunia pendidikan.











BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1        PendekatanPembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1.      Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.      Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.      Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.      Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1.      Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.      Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.      Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.      Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
2.2        Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Semiawan (Nasution, 2007:19-110) juga mengatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru. Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan ketrampilan proses yang digunakan untuk mengungkap dan menemukan fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang diperlukan oleh siswa. Proses pembelajaran dengan pendekatan ini dimulai dari obyek nyata atau obyek yang sebenarnya dengan menggunakan pengalaman langsung, sehingga siswa diharapkan terjun dalam kegiatan belajar mengajar yang lebih realistis, dan siswa juga diajak ,dilatih, dan dibiasakan melakukan observasi langsung dan membuat kesimpulan sendiri.
Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses dalam penegasan istilah ini adalah suatu pendekatan pembelajaran yang semata-mata menekankan pada siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan yang diterapkan oleh guru dalam proses belajar mengajar IPA agar kreatifitas yang adadalam diri siswa dapat dikembangkan seperti keterampilan mengamati, mengkomunikasikan dan menyimpulkan apa yang dilakukannya serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan, Sedangkan pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu dan terampil dalam bentuk kreatifitas. Ada beberapa alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan proses antara lain:
a.       Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.
b.      Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekanya sendiri.
c.       Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, karena penemuanya bersifat relatif.
d.      Proses belajar dan pembelajaran bertujuan membentuk manusia yang utuh artinya cerdas, terampil dan memiliki sikap dan nilai yang diharapkan. Jadi, pengembangan pengetahuan dan sikap harus menyatu. Dengan keterampilan memproses ilmu, diharapkan berlanjut kepemilikan sikap dan mental.
Berdasarkan keempat alasan ini perlu dicari cara belajar mengajar yang sebaik-baiknya yaitu dengan menggunakan pendekatan yang tak lain adalah Cara belajar siswa aktif (CBSA), namun bukanlah cara siswa aktif tanpa isi, tanpa pesan, tanpa rancangan, dan tanpa arah. Cara Belajar Siswa Aktif yang dipraktekan adalah cara belajar siswa aktif yang mengembangkan keterampilan dan memproseskan perolehan.
2.3        Tujuan Keterampilan Proses
Tujuan pengajaran sebagai proses adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga siswa bukan hanya mampu dan terampil dalam bidang psikomotorik, melainkan juga bukan sekedar ahli menghafal. Berdasarkan penjelasan di atas, pada keterampilan proses, guru tidak mengharapkan setiap siswa akan menjadi ilmuwan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa memahami sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-cara seperti yang diperbuat oleh ilmuwan. Selain itu, melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan. Dan alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan ke jalur profesi apapun yang diminatinya.
2.4        Kemampuan Dasar dalam Keterampilan Proses
Ilmuwan-ilmuwan yang menemukan suatu yang baru, menurut pengamatan, tidak menguasai semua konsep dan fakta dalam suatu bidang ilmu, namun mereka mempunyai kemampuan dasar untuk mengembangkan konsep dan fakta yang terbatas itu, sehingga mereka mampu menciptakan dan menemukan sesuatu yang baru. Kemampuan-kemampuan dasar yang dimaksud antara lain mengobservasi, menghitung, mengukur, mengklasifikasi, mencari hubungan ruang waktu, membuat hipotesis, merencanakan penelitian atau eksperimen, mengendalikan verbal, menafsirkan data, membuat kesimpulan sementara, meramalkan, menerapkan, mengkomunikasikan. Berikut ini akan diuraikan mengenai pengertian dari setiap kemampuan atau keterampilan beserta kata kerja operasional dari masing-masing kemampuan atau keterampilan.
a.       Observasi atau Pengamatan
Observasi adalah salah satu keterampilan ilmiah yang mendasar. Mengobservasi tidak sama dengan melihat, dalam mengobservasi atau mengamati kita memilah milahkan mana yang penting dari yang kurang atau tidak penting. Kita menggunakan semua indera, untuk melihat, mendengar, merasa, mengecap, mencium.
b.      Pembuatan Hipotesis
Kemampuan membuat hipotesis adalah salah satu keterampilan yang sangat mendasar dalam kerja ilmiah.Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu.
c.       Perencanaan Penelitian atau Eksperimen
Eksperimen adalah usaha menguji atau mengetes melalui penyelidikan praktis dan amat penting karena menentukan berhasil tidaknya penelitian.Keterampilan ini perlu dilatih, karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina. Pada tahap ini ditentukan masalah atau objek yang akan diteliti, tujuan, dan ruang lingkup penelitian, sumber data atau informasi, cara analisis, alat dan bahan atau sumber kepustakaan yang diperlukan. Jumlah orang yang terlibat, langkah-langkah pengumpulan dan pengolahan data atau informasi, serta tata cara melakukan penelitian.
d.      Pengendalian Variabel
Variabel adal faktor yang berpengaruh, sedangkan pengendalian variabel adalah suatu aktifitas yang dipandang sulit, namun sebenarnya tidak sulit yang kita bayangkan.Yang penting adalah bagaimana guru menggunakan kesempatan yang tersedia untuk melatih anak mengontrol dan memperlakukan variabel.
e.       Interpretasi Data
Data yang dikumpulkan melalui observasi, penghitungan, pengukuran, eksperimen, atau penelitian sederhana dapat dicatat atau disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel, grapik, histogram atau diagram.
f.       Kesimpulan Sementara
Para guru dapat melatih anak-anak dalam menyusun suatu kesimpulan sementara dalam proses penelitian sederhana yang dilakukan. Pertama-tama data dikumpulkan, kadang kadang melalui eksperimen terlebih dahulu lalu dibuat kesimpulan sementara berdasarkan informasi yang dimiliki sampai sewaktu-waktu tertentu.
g.      Peramalan
Yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan atau pola tertentu atau hubungan antar data atau informasi.
h.      Penerapan atau Aplikasi
Yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori, keterampilan.Melalui penerapan, hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan, atau dihayati.
i.        Komunikasi
Yaitu meyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan. Juga dengan berdiskusi, mendeklamasikan, mendramakan, bertanya, merenungkan, meragakan, mengungkapkan, melaporkan (dalam bentuk lisan, tulisan, gerak atau penampilan).
2.5        Hasil Belajar Siswa
Setiap akhir program pembelajaran selalu diadakan evaluasi dengan maksud untuk mengetahui hasil belajar siwa karena hasil belajar yang diperoleh siswa dapat menunjukkan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan hasil belajar di bawah ini akan diuraikan mengenai pengertian hasil belajar, ciri-ciri hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
2.5.1.      Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau belajar” (Dimyati dan Moedjiono dalam Indra, 2009). Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat yang diperoleh oleh setiap siswa setelah proses belajar. Di dalam proses belajar siswa mengerjakan hal-hal yang akan dipelajari sesuai dengan tujuan dan maksud belajar. Hasil belajar berkaitan dengan bagaimana siswa belajar. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman (Hernawan dalam Wonosobo, 2011).
Dari beberapa pendapat tentang hasil belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami interaksi proses pembelajaran melalui evaluasi belajar IPA yang dilakukan dengan tes yang dijadwalkan. Kemajuan yang diperoleh siswa tidak hanya berupa ilmu pengetahuan, tetapi juga berupa sikap dan kecakapan atau keterampilan khususnya dalam mata pelajaran IPA.
2.5.2.      Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA)
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu mata pelajaran di Sekolah dasar, merupakan program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghagai Tuhan Yang Masa Esa. Sejalan dengan itu maka hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar dapat di uaraikan sebagai berikut:
1.      Siswa memiliki pemahaman tentang konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari;
2.      Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar;
3.      Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari;
4.      Mengenal dan dapat memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar.
Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar dapat diuraikan sebagai hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dapat melatih pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPA, melatih keterampilan siswa dalam menggunakan alat teknologi sederhana dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan alam sekitar yang pada akhirnya dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
2.5.3.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Djamarah dan Zain (2002: 121) mengemukakan bahwa setiap proses belajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai dimana hasil (hasil) belajar yang telah dicapai. Proses belajar tidak mungkin dicapai begitu saja, banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seorang anak mampu mencapai hasil atau keberhasilan dalam belajar. Pada umumnya hasil atau keberhasilan belajar seorang murid, dalam hal ini siswa kelas VA SD Negeri Kompleks Sambung Jawa Makassar sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaksanakan oleh anak itu sendiri.
Hasil belajar yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran tidak dapat terlepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Untuk itu, Syah (2006: 144) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa terdiri dari dua faktor, yaitu faktor yang datangnya dari dalam diri individu siswa (internal factor), dan faktor yang datangnya dari luar diri individu siswa (eksternal factor). Keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)   Faktor internal anak, meliputi: 
a)      Faktor psikis (jasmani). Kondisi umum jasmani yang menandai dapat mempengaruhi semangat dan intensitas anak dalam mengikuti pelajaran.
b)      Faktor psikologis (kejiwaan). Faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas perolehan hasil belajar siswa antara lain: (1) Intelegensi, (2) sikap, (3) bakat, (4) minat, dan (5) motivasi.
2)   Faktor eksternal anak, meliputi : 
a)      Faktor lingkungan sosial, seperti para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas.
b)      Faktor lingkungan non-sosial, seperti sarana dan prasarana sekolah/ belajar, letaknya rumah tempat tinggal keluarga, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan anak.  
c)      Faktor pendekatan belajar, yaitu cara guru mengajar guru, maupun metode dan media pembelajaran yang digunakan.
Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa disebut sebagai hambatan/ kesulitan belajar akibat kondisi keluarga yang kurang kondusif. Terkait dengan hal ini, Ihsan (2005: 19) menyebutkan 7 hambatan-hambatan yang dihadapi siswa akibat kondisi lingkungan keluarga, yaitu:
1)      Anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua.
2)      Figur orang tua yang tidak mampu memberikan keteladanan kepada anak.
3)      Kasih sayang orang tua yang berlebihan sehingga cenderung untuk memanjakan anak.
4)      Sosial ekonomi keluarga yang kurang atau sebaliknya yang tidak bisa menunjang belajar.
5)      Orang tua yang tidak bisa memberikan rasa aman kepada anak, atau tuntutan orang tua yang terlalu tinggi.
6)      Orang tua yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada anak, dan
7)      Orang tua yang tidak bisa membangkitkan inisiatif dan kreativitas kepada anak.  
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa paling tidak ada dua faktor utama yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor yang datangnya dari dalam diri siswa (internal), dan faktor yang datannya dari luar disi siswa (eksternal).
2.6        Materi Pelajaran IPA SD Kelas V
2.6.1.   Jenis-jenis Batuan
Setiap batuan memiliki sifat dan ciri khusus. Hal ini disebabkan bahan-bahan yangterkandung dalam batuan berbeda-beda. Ada batuan yang mengandung zat besi, nikel, tembaga, emas, belerang, platina atau bahan-bahan lain. Bahan-bahan seperti itu disebut mineral. Tiap jenis batuan mempunyai kandungan mineral yang berbeda.
Berdasarkan proses terbentuknya, terdapat 3 jenis batuan yang menyusun lapisan kerak bumi. Tiga jenis batuan tersebut yaitu :
a.       Batuan Beku (Batuan Magma/Vulkanik)
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma yang membeku.Magma merupakan benda cair yang sangat panas dan terdapat di perut bumi.Magma yang mencapai permukaan bumi disebut lava.Semula batuan beku berupa lelehan magma yang besar.
b.      Batuan Endapan (Batuan Sedimen)
Batuan endapan adalah batuan yang terbentuk dari endapan hasil pelapukan batuan.Batuan ini dapat pula terbentuk dari endapan sisa-sisa binatang dan tumbuhan.


c.       Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan malihan berasal dari batuan sendimen yang mengalami perubahan (metamorphosis).Batuan sendimen ini mengalami perubahan karena mendapat panas dan tekanan dari dalam bumi. Jika mendapat pans terus-menerus batuan ini akan menjadi batuan malihan.
2.6.2.      Proses Pembentukan Tanah Karena pelapukan Batuan
a.   Pelapukan Fisika
Pelapukan Fisika disebabkan oleh berbagai faktor alam. Faktor alam itu antara lain : angin. Air, perubahan suhu, dan gelombang laut.
Angin yang senantiasa bertiup kencang dapat mengikis batuan sedikit demi sedikit. Kondisi ini dapat mengakibatkan batuan  mengalami erosi. Erosi batuan menyebabkan terjadinya padang pasir. Selain itu, angin yang bertiup  sangat kencang juga dapat menggeser batuan. Saat bergeser inilah batuan bergesekan dengan batuan lain sehingga mengalami penggerusan. Batuan akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil , misalnya pasir dan kerikil.Perubahan suhu secara drastis juga dapat mengakibatkan pelapukan batuan.Batu juga dapat mengalami pelapukan karena air. Air hujan dan air terjun yang mengenai batuan secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan retak dan pecah.
b.   Pelapukan Biologi
Pelapukan secara biologi dapat disebabkan oleh tumbuhan atau lumut yang menempel dipermukaan batuan. Tumbuhan merambat dan lumut menempel di permukaan batuan. Tumbuhan merambat akan menimbulkan lubang-lubang pada batuan tempat akarnya melekat. Lubang-lubang ini lama kelamaan bertambah besar dan banyak. Akhirnya, batuan  tersebut akan hancur.
2.6.3.      Susunan Tanah Beserta Jenis-Jenisnya
Menurut susunannnya, lapisan tanah terdiri atas lapisan tanah atas, lapisan tanah bawah, dan bahan induk tanah. Tanah lapisan paling atas umumnya sangat subur. Hal ini karena lapisan tanah atas bercampur dengan humus.
Tanah yang kaya dengan humus berwarna lebih hitam dibandingkan jenis tanah yang lain. Sementara itu, tanah laipsan bawah kurang subur dan mempunyai warna lebih terang. Tanah lapisan bawah mengandung sedikit humus. Humus berasal dari pembusukan hewan atau tumbuhan yang telah mati.
Bahan-bahan pembentuk tanah dapat berbeda-beda dari satu tempat dengan tempat lainnya. Demikian juga dengan jenis-jenis tanah. Jenis tanah juga dapat berbeda di setiap tempat. Hal ini tergantung pada jenis batuan yang mengalami pelapukan di tempat itu. Jenis tanah dapat dibedakan menjadi tanah berhumus, tanah berpasir, tanah liat dan tanah berkapur.
·         Tanah berpasir
Tanah berpasir merupakan jenis tanah yang gembur dan mudah dilalui oleh air. Tanah jenis ini mengandung sedikit bahan organik yang berasal dari makhluk hidup. Hal inilah yang menyebabkan tanah berpasir tidak begitusubur.
·         Tanah berhumus
Humus berasal dari sisa-sisa tumbuhan. Tanah yang mengandung banyak humus merupakan jenis tanah yang memiliki kesuburan yang sangat baik. Tanah jenis ini dapat menahan air dan merupakan tanah yang paling subur dibandingkan dengan jenis tanah lainnya.


·         Tanah liat
Jenis tanah ini banyak digunakan untuk pembuatan keramik dan kerajinan lainnya. Dalam keadaan basah tanah ini lengket dan sangat elastis.Tanah jenis ini sulit dilalui oleh air dan tidak banyak mengandung bahan organik.
2.7        Hipotesis Tindakan
Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut penerapan pendekatan keterampalan proses dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas V Madrasah Ibtidaiyah DDI Masamba.

























BAB III
METODE PENELITIAN

3.1        Desain Penelitian
Rangkaian kegiatan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini mengacu pada pedoman PTK. Tujuan melakukan PTK yaitu untuk meningkatkan dan memperbaiki praktek yang seharusnya dilakukan oleh guru. Adapun penelitian ini terdiri atas beberapa siklus, pelaksanaan pelaksanaan penelitian ini seperti pada gambar siklus dibawah ini.
Perencanaan
SIKLUS I
Pengamatan
Perencanaan
SIKLUS II
Pengamatan
Pelaksanaan
Pelaksanaan
Refleksi
Refleksi
?
 








              
               
Gbr. 3.1 Desain Penelitian (Sumber : Arikunto, 2008)
3.2        Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukaan di MI DII Masamba pada siswa kelas V yang berjumlah 20 orang, yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan.
3.3        Rancangan Pelaksanaan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian yang dimaksud untuk memperbaiki pembelajaran. Penelitian tindakan kelas ini direncanakan akan dilaksanakan dalam beberapa siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, meliputi; 1)tahap perencanaan, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap evalasi/observasi, dan 4)tahap refleksi.
Masing-masing tahapan ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:
Siklus ke I
keterangan:
a.       Rencana tindakan
b.      Pelaksanaan tindakan
c.       Pemantauan dan Evaluasi
d.      Refleksi dan Revisi
a. Rencana Penelitian Tindakan Kelas Siklus I
1)      Rencana Penelitian
Hal-hal yang perlu disampaikan adalah; 1) menyusun persiapan mengajar sesuai dengan pokok bahasan yang disajikan dalam setiap pertemuan, 2) menyiapkan media sesuai dengan pokok bahasan, 3) menentukan metode mengajar, dan 4) menyiapkan alat penelitian.
2)      Tindakan
Pada tahap ini, penelitian melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Struktur waktu diatur sebagai berikut; apersepsi 5 menit, kegiatan inti 40 menit, evaluasi 20 menit, dan tindak lanjut 5 menit. Maka waktu keseluruhan menjadi 70 menit yang dilaksanakan pada satu kali pertemuan.
3)      Evaluasi
Pada setiap akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa.
4)      Refleksi
Refleksi ini dilakukan untuk mengkaji hasil tindakan pada siklus I mengenai hasil belajar IPA. Hasil kajian tindakan siklus I selanjutnya untuk dipikirkan serta ditetapkan beberapa alternative tindakan baru yang diduga lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA. Tindakan ini ditetapkan menjadi tindakan baru pada siklus II.
b. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas Siklus II
1)      Rencana Penelitian
Beberapa hal yang perlu disiapkan yaitu; 1) menyusun persiapan mengajar sesuai dengan pokok bahasan yang disajikan, 2) menyiapkan media sesuai dengan pokok bahasan, 3) menentukan metode mengajar, dan 4) menyiapkan alat penelitian.
2)      Tindakan
Penelitian melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan jadwal dan merencanakan alokasi waktu seperti: apersepsi 5 menit, kegiatan inti 40 menit, evaluasi 20 menit, dan tindak lanjut 5 menit. Maka keseluruhan waktu menjadi 70 menit yang dilaksanakan pada satu kali pertemuan.


3)      Evaluasi
Pada setiap akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa.
4)      Refleksi
Penelitian hasil observasi atau evaluasi penellitian tindakan kelas pada siklus II mendapat hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila belum mencapai hasil yang diharapkan maka penelitian akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.
3.4        Jenis Data dan Teknik Pengumpilan Data
a.       Alat Pengumpulan Data
·         Tes tertulis
·         Lembar observasi siswa
·         Lember observasi guru
b.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tes hasil belajar siswa setelah pelaksanaan pembelajaran berlangsung, untuk melihat kemajuan dan hasil belajar siswa dengan pembelajaran menggunakan penerapan pendekatan proses.
            Observasi yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengamati aspek-aspek tertentu dalam proses pembelajaran yakni perencanaan penerapan pendekatan keterampilan proses.
            Observasi dilakukan pada aktivitas siswa pada proses pembelajaran dan kegiatan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi.

3.5        Teknik Analisa Data
              Hasil belajar siswa dianalisa dengan analisis diskriptif komperatif yaitu dengan membandingkan daya serap pada tes hasil belajar, tes siklus 1, dan tes siklus 2. Data hasil tes dianalisis sebagai berikut :
a.       Daya serap individu dirumuskan sebagai berikut :
Suatu individu dapat dikatakan tuntas apabila memiliki daya serap yang diperolehnya mencapai 60%.
b.      Ketuntasan klasikal dirumuskan sebagai berikut :
Suatu kelas dapat dikatakan tuntas belajar jika ketuntasan klasikal mencapai 70%.
Suatu kelas dikatakan tuntas klasifikasi jika banyaknya siswa dapat diperoleh skor diatas 65 mencapai 60% atau lebih.
Penggunaan model pembelajaran ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa apabila siswa secara individu dapat mencapai nilai minimal 60%, daya serap klasikal 65%, dan ketuntasan klasikal 70%. Nilai ini merupakan ketentuan dan kesepakatan yang ditetapkan MI DDI Masamba. kriteria taraf keberhasilan tindakan dapat ditentukan (Hadi, 2003:107) yaitu:
90% ≤ NR ≤ 100%           :  Sangat Baik
80% ≤ NR < 90%             :  Baik
70% ≤ NR < 80%             :  Cukup
60% ≤ NR < 70%             :  Kurang
 0% ≤ NR < 60%              :  Sangat Kurang
3.6  Indikator Kinerja
Indikator kuantitatif pembelajaran dalam penelitian dikatakan berhasil apabila prestasi belajar Sains mencapai ketuntasan belajar klasikal minimal 85% dan daya serap Klasikal 80%.Dan untuk indikator kuantitatif dikatakan berhasil apabila berada dalam kategori baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar